CERITA FIKSI

 "POHON YANG MENYIMPAN MIMPI"

Orientasi

Di sebuah desa kecil bernama Arunika, tersembunyi di antara perbukitan dan ladang teh, berdiri sebuah pohon tua yang menjulang tinggi. Warga desa menyebutnya Pohon Lelana. Tidak ada yang tahu pasti kapan pohon itu tumbuh, tetapi konon, akar-akarnya telah menjalar hingga ke dasar bumi, dan dahannya menjangkau mimpi-mimpi langit.

Anak-anak desa percaya bahwa siapa pun yang tidur di bawah Pohon Lelana akan bermimpi tentang masa depan mereka. Beberapa menganggapnya mitos, namun bagi Kalya, gadis berusia 14 tahun yang sering bermimpi menjadi pelukis terkenal, pohon itu adalah satu-satunya harapan.


Komplikasi

Kalya hidup bersama neneknya sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Mereka hidup sederhana, dan Kalya sering melukis di buku catatan bekas untuk melarikan diri dari kenyataan. Sayangnya, desa mereka terancam oleh rencana pembangunan jalan tol. Para pengembang mengincar lahan tempat Pohon Lelana berdiri, menganggapnya tak lebih dari pohon tua yang menghalangi kemajuan.

Kalya marah. Ia tak rela Pohon Lelana ditebang. Suatu malam, ia nekat tidur di bawah pohon itu, berharap mendapatkan petunjuk dari mimpinya. Dalam tidurnya, Kalya melihat dunia penuh warna, lukisan raksasa yang melayang di langit, dan dirinya berdiri di sebuah galeri besar, tersenyum sambil dikelilingi orang-orang yang mengagumi karyanya. Tapi di tengah mimpi itu, pohon mulai layu dan retak, lalu hilang dalam gelap. Ia terbangun dengan napas tersengal. Ia merasa itu bukan sekadar mimpi, tapi peringatan.


Klimaks

Esoknya, Kalya mengajak teman-teman sebayanya untuk membantu menyelamatkan pohon. Mereka mulai mengumpulkan cerita-cerita dari warga yang pernah bermimpi di bawah Pohon Lelana. Seorang kakek mengaku melihat istrinya yang telah tiada, seorang ibu bermimpi tentang kelahiran anaknya sebelum tahu ia hamil. Semua itu Kalya lukis, satu demi satu.

Dengan keberanian, Kalya membawa semua lukisannya dan testimoni warga ke balai desa. Ia bahkan berbicara langsung pada tim pengembang yang sedang melakukan survei lahan. “Pohon ini bukan hanya sebatang kayu. Ia adalah penjaga mimpi. Kalian akan merenggut masa depan kami bila menebangnya,” ujarnya dengan lantang. Namun mereka tetap tidak peduli. Hingga hari itu datang.


Resolusi

Saat para pekerja datang dengan alat berat, langit mendadak menghitam. Angin berputar-putar liar di sekitar pohon. Beberapa warga yang menyaksikan mengaku mendengar suara-suara, bisikan lembut seperti nyanyian, dan daun-daun yang melayang seperti potongan mimpi. Alat berat tiba-tiba mogok. Bahkan, operatornya mengaku melihat bayangan masa kecilnya berdiri di cabang tertinggi pohon, memintanya berhenti.

Kejadian itu membuat warga desa dan para pekerja menggigil. Keesokan harinya, berita tentang "pohon yang mengusir alat berat" tersebar. Pihak pengembang mundur perlahan. Pemerintah lokal akhirnya menetapkan kawasan itu sebagai cagar budaya.


Koda

Beberapa tahun kemudian, Kalya membuka galeri seni di desa Arunika. Lukisan-lukisan pertamanya, yang menggambarkan mimpi-mimpi di bawah Pohon Lelana, masih tergantung di dinding depan. Ia kini dikenal luas sebagai pelukis mimpi. Pohon itu masih berdiri, tinggi dan teduh, menampung ratusan harapan baru yang datang malam demi malam.

Karena di desa Arunika, mimpi tak sekadar bunga tidur. Mereka tumbuh, berakar, dan hidup… di bawah naungan Pohon Lelana.

---

"Seperti pohon yang menyimpan mimpi di setiap daun dan akarnya, kita pun punya harapan yang tertanam dalam hati. Meski tertiup angin ragu atau diterpa hujan kegagalan, teruslah tumbuh—karena mimpi yang dijaga dengan ketekunan akan berbuah indah pada waktunya."

Comments

Popular Posts